CATATAN AFRIDA ZULFIYANA Menjaga Nyala Literasi dari Jawa Tengah Hingga Halmahera Tengah

CATATAN AFRIDA ZULFIYANA Menjaga Nyala Literasi dari Jawa Tengah Hingga Halmahera Tengah

Tidak semua pengabdian dimulai dari panggung besar. Sebagian justru tumbuh dari niat sederhana: keinginan untuk berbagi. Keyakinan inilah yang terus dipegang oleh Afrida Zulfiyana, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), yang saat ini mengemban amanah tugas di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.

Perempuan asal Tegal, Jawa Tengah, ini resmi dilantik sebagai PNS pada tahun 2025. Penempatan tugas yang jauh dari tanah kelahiran tidak membuatnya merasa terasing. Sebaliknya, Afrida justru menemukan ruang baru untuk menumbuhkan nilai-nilai yang sejak lama hidup dalam dirinya: literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial. Di Kota Weda, tempat ia kini menetap dan mengabdi, semangat tersebut terus ia rawat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Tumbuh dalam Lingkungan Literasi

Kecintaan Afrida terhadap dunia literasi tidak hadir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan aktivitas membaca dan berbagi pengetahuan. Salah satu sumber inspirasinya datang dari kakak kandung dan kakak iparnya pengelola Rumah Baca AQLEA, sebuah ruang literasi yang membuka akses belajar bagi semua usia, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Dari lingkungan inilah Afrida belajar bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan sarana membangun daya pikir, karakter, dan harapan.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya sejak dini. Bagi Afrida, literasi adalah praktik hidup yang dapat diterapkan di mana pun ia berada. Maka, ketika tugas negara membawanya jauh ke timur Indonesia, nilai-nilai itu tidak ia tinggalkan. Justru sebaliknya, ia bawa sebagai bekal untuk beradaptasi dan berkontribusi di lingkungan baru.

Menemukan Rumah Pengabdian di Halmahera Tengah

Di Halmahera Tengah, Afrida mulai membangun relasi dengan berbagai pihak. Dari obrolan sederhana hingga pertemuan komunitas, ia membuka ruang komunikasi agar minat literasinya dapat tersalurkan secara nyata. Dari proses itulah ia kemudian dipertemukan dengan Literasi Halmahera Tengah, PKBM Were Mandiri, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan nonformal dan kegiatan literasi masyarakat.

Pertemuan ini menjadi titik penting dalam perjalanan pengabdiannya. Dengan visi yang sejalan, Afrida tanpa ragu terlibat aktif. Ia hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari komunitas belajar. Bersama rekan-rekan pegiat literasi setempat, ia ikut mendampingi, merancang kegiatan, serta membangun suasana belajar yang ramah dan menyenangkan.

Afrida dikenal sebagai pribadi yang komunikatif, hangat, dan mudah berbaur. Sikap terbukanya membuat ia cepat diterima, baik oleh sesama rekan maupun oleh anak-anak. Dalam ruang literasi itu, perbedaan latar belakang bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang saling menguatkan.

Berbagi di Tengah Tugas Negara

Kesibukan sebagai ASN di lingkungan Kementerian ATR/BPN Kabupaten Halmahera Tengah tidak menyurutkan langkah Afrida untuk tetap berbagi. Di sela rutinitas pekerjaan, ia menyempatkan diri terlibat dalam program MARBEL (Mari Belajar Sambil Bermain), sebuah kegiatan pendampingan belajar yang dirancang agar anak-anak dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan.

Salah satu fokus pendampingannya adalah pembelajaran Bahasa Inggris. Dengan pendekatan yang santai dan interaktif, Afrida berupaya menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak dalam mengenal bahasa asing. Bagi Afrida, proses belajar tidak harus kaku; ia dapat hadir melalui permainan, cerita, dan tawa, asalkan anak-anak merasa nyaman dan bersemangat.

Keterampilannya di bidang bahasa asing tidak lepas dari pengalamannya belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Pengalaman tersebut kini ia bagikan kembali, bukan dalam bentuk ceramah, melainkan melalui pendampingan yang penuh empati dan kesabaran.

Jejak Literasi yang Terus Berlanjut

Sebelum bertugas di Halmahera Tengah, Afrida telah aktif dalam berbagai kegiatan literasi di Kabupaten Tegal dan Banyumas, khususnya di wilayah Sokaraja dan Purwokerto. Pengalaman itu memperkaya perspektifnya dalam memahami beragam karakter dan kebutuhan belajar masyarakat.

Kini, meski berada jauh dari Jawa, Afrida tetap menjaga keterhubungan dengan dunia literasi yang telah membesarkannya. Semangat yang ia bawa dari Rumah Baca AQLEA terus hidup, bertransformasi, dan menemukan bentuk baru di tanah Halmahera Tengah.

Literasi Tanpa Batas Wilayah

Bagi Afrida, literasi tidak pernah mengenal batas geografis. Ia tidak terikat pada satu tempat, melainkan tumbuh di mana pun ada niat baik dan kepedulian. Dari Jawa hingga Maluku Utara, dari ruang baca hingga kelas sederhana, literasi selalu menemukan jalannya sendiri.

Melalui langkah-langkah kecil namun konsisten, Afrida menunjukkan bahwa pengabdian dapat berjalan beriringan dengan tugas negara. Bahwa menjadi ASN tidak menutup ruang untuk tetap menjadi pegiat literasi. Dan bahwa berbagi pengetahuan, sekecil apa pun bentuknya, selalu memiliki arti bagi masa depan generasi berikutnya.

“”(Kolaborasi dengan Khamidatun Nisa Rumah Baca AQLEA)””

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
20 Orang Peserta Program Weda Go To Pare Kembali Ke Halmahera Tengah

20 Orang Peserta Program Weda Go To Pare Kembali Ke Halmahera Tengah

Sekretaris Daerah Sambangi Peserta Halmahera Tengah di Kampung Inggris

Sekretaris Daerah Sambangi Peserta Halmahera Tengah di Kampung Inggris

KAMPUNG TUA (DESA WERE)

KAMPUNG TUA (DESA WERE)

Bangunan Tua Cerita Tentang Pengabdian

Bangunan Tua Cerita Tentang Pengabdian

Peserta (Weda Go To Pare)

Peserta (Weda Go To Pare)

Program Weda Go To Pare

Program Weda Go To Pare